Senin, 11 April 2011

New Ethnography dalam Analisis Domain dan Taksonomi

New Ethnography atau Etnoscience adalah bermula dari perkembangan antropologi kognitif. Kebudayaan sebagai sistem simbol terdiri dari percepts, konsep abstraksi, dan simbol. Struktur pengetahuan terdiri dari domain, taksonomi, dan analisis komponensial, yang melihat unsur-unsur (komponen) yang secara bersama membentuk makna. Bahasa di anggap sebagai jalur untuk mengakses gejala mental (kognisi): manusia memberi nama dan berbicara tentang hal-hal yang penting baginya. Penelitian menghasilkan peta-peta kognitif, tidak sekadar mencari kata-kata objek tetapi cari definisi objek menurut sistem konseptual masyarakat yang diteliti (Frake).
Kajian-kajian terhadap sistem-sistem pengetahuan ‘etnik’ melahirkan New Ethnography atau Ethnoscience. Kajian yang terlalu fokus pada bahasa, dan didasarkan pada ideal speaker hearer mengakibatkan agenda penelitian Goodenough menjadi sempit. Konsep, dari kenyataan kita mengamati lalu mencerna. Konstruk, ide tetapi tidak sepenuhnya dilihat dari kenyataan, kita membangun ide walaupun dalam kenyataan tidak ada. Analisis konstruk, gejala yang kita teliti membantu. Misalnya atom, pada waktu dulu dianggap ada sebagai unsur pembentuk tetapi diperkirakan ada yang membantu membongkar rahasia alam, membantu mengkonstruk mereka. Konstruk idea, ada orang yang mengetahui secara pasti dan sempurna bahasa dia sendiri. Misalnya jika ingin mengetahui bahasa, kita mencari ideal speaker hearer dan melengkapinya. Bahasa terintegrasi dan tertutup; budaya, sistem-sistem yang tidak begitu rapi.
Penelitian-penelitian taksonomi menghasilkan definisi ekstensional, bukan intensional, tidak menjawab masalah hubungan pengetahuan dan perilaku: Apa yang mendorong atau memotivasi perilaku dan tindakan? Ekstensional, memuat semua obyek yang ada dalam kategori tersebut, sedangkan intension menekankan pada ciri-ciri atau hakekat benda tersebut. Beberapa kritik terhadap Ethnoscience yaitu agenda penelitian yang terlalu fokus pada sistem peristilahan atau penamaan. Tetapi pertanyaannya, adakah pengetahuan yang tidak terungkap oleh bahasa? Selain itu, prinsip keserupaan yang mendasari pembentukan sebuah domain. Misalnya jeruk dan mangga dalam satu domain. Tetapi bisa saja manusia dan meja dalam satu domain karena berada dalam satu ruang. Etnoscience dalam upaya menggali pengetahuan masyarakat mengabaikan pembentukan dan penggunaan pengetahuan tersebut dalam interaksi.
Harapannya, teori dapat menjelaskan proses pembelajaran pengetahuan (learning), dan penggunaan bersama (sharing). Kenyataan bahwa pengetahuan dapat bersifat stabil (dan tematik) pada individu atau dalam kelompok. Kenyataan bahwa pengetahuan bervariasi antara individu dan antarwaktu. Ada yang dimiliki bersama (sharing knowledge), ada juga karena sharing dengan kelompok lain. Dalam tiap waktu berbeda, teori dalam teori lama (domain) tidak bisa dijelaskan. Selain itu, kenyataan bahwa kebudayaan bersifat generative, menghasilkan bentuk-bentuk baru. Dalam hal ini misalnya inovasi.